NU dan Muhamadiyah Punya Potensi Hari Raya Bersama

Berita 18 Mar 2026 09:54 2 min read 2 views By Admin User
NU dan Muhamadiyah Punya Potensi Hari Raya Bersama
Menariknya, sejumlah analisis astronomi menunjukkan bahwa pada tahun-tahun tertentu, termasuk 2026, terdapat peluang hasil hisab dan rukyat bisa bertemu. Bahkan, sebagian pengamat menyebut bahwa Idulfitri 2026 juga memiliki kemungkinan jatuh bersamaan, tergantung hasil rukyat di lapangan.

NU dan Muhammadiyah Punya Potensi Hari Raya Bersama

 

Harapan penyatuan Hari Raya Idulfitri antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kembali mengemuka pada Ramadhan 1447 H/2026. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun masih terdapat potensi perbedaan, ruang menuju kesamaan semakin terbuka melalui pendekatan ilmiah dan dialog keumatan.

Berdasarkan data terbaru, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 melalui metode hisab. Sementara itu, pemerintah dan NU masih menunggu hasil rukyatul hilal melalui sidang isbat yang dijadwalkan pada 19 Maret 2026, dengan potensi penetapan pada 21 Maret 2026. 

Perbedaan ini kembali menegaskan bahwa metode penentuan kalender Hijriah masih menjadi faktor utama belum seragamnya hari raya. Namun demikian, sejumlah tokoh dari kedua organisasi menegaskan pentingnya terus membangun titik temu.

Tokoh Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam berbagai forum menekankan pentingnya kalender Islam global sebagai solusi jangka panjang.
“Kalender Hijriah yang bersifat global dan terpadu menjadi kebutuhan umat agar tercipta kepastian dan kesatuan dalam beribadah,” demikian pandangan yang sering ia sampaikan dalam forum Muhammadiyah.

Sementara dari kalangan NU, tokoh seperti Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh mengurangi semangat persatuan.
“Perbedaan metode adalah bagian dari ijtihad. Yang penting adalah menjaga ukhuwah dan terus mencari titik temu,” menjadi garis besar sikap NU dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Menariknya, sejumlah analisis astronomi menunjukkan bahwa pada tahun-tahun tertentu, termasuk 2026, terdapat peluang hasil hisab dan rukyat bisa bertemu. Bahkan, sebagian pengamat menyebut bahwa Idulfitri 2026 juga memiliki kemungkinan jatuh bersamaan, tergantung hasil rukyat di lapangan. 

Selain itu, pendekatan integrasi antara hisab dan rukyat (neo-MABIMS) yang terus dikembangkan di kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu harapan baru dalam menyatukan kalender Hijriah. Para pakar falak menilai bahwa kemajuan teknologi observasi hilal semakin membuka peluang kesepakatan bersama.

Secara sosial, penyatuan hari raya memiliki makna yang sangat besar. Bukan hanya soal penanggalan, tetapi juga simbol kuat persatuan umat Islam Indonesia.

“Jika umat bisa berhari raya bersama, maka itu bukan sekadar keseragaman waktu, tetapi wujud nyata ukhuwah Islamiyah,” ujar seorang akademisi falak.

Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan bersama yang final. Perbedaan metode masih menjadi bagian dari dinamika ijtihad yang dihormati. Namun, dengan semakin intensnya dialog dan kemajuan ilmu pengetahuan, harapan menuju satu kalender Hijriah dan hari raya bersama semakin mendekati kenyataan.

Chat with us on WhatsApp